LULUS, Hak? Kewajiban? Keinginan? atau Kebutuhan? atau Tanggung jawab?, atau suratan takdir?

Setiap jenjang pendidikan yang ditempuh seseorang, mulai dari TK, SD hingga S3, bahkan sampai negeri china, pasti mengenal yang namanya purna studi, atau sering kita sebut “LULUS”. Tapi, pastilah ada segudang cerita dalam menuju saat-saat itu. Mulai dari cerita Malin Kundang, Andhe-andhe lumut, hingga Global warming, dari Siti Nurbaya hingga Twilight Saga tercipta, layak dikenang mewarnai dengan rupa yang pasti berbeda pada tiap insan didalamnya. Dengan menilik balik cerita-cerita yang terukir, sampailah pada masanya ketika embel-embel “LULUS” disematkan pada pribadi seseorang, Termasuk saya.

Sejenak lupakan dulu kisah saat TK hingga SMA yang penuh cerita. Setelah melakoni semua itu, sampailah pada tahapan pendidikan di Indonesia ini pada jenjang Strata 1, seperti yang saya alami dan jalani. Tanggal 14 Juli 2012 yang lalu saya memperoleh embel-embel “LULUS” yang membuat nama asli saya tertulis di selembar kertas, seolah-olah menjadi lebih panjang jika dibanding saat sebelum tanggal itu.

Muncul pertanyaan menggelitik dan tidak begitu penting menurut saya, seperti yang tertera pada judul tulisan ini. LULUS, Kewajiban? Keinginan? atau Kebutuhan?atau Tanggung jawab?, atau suratan takdir? . Mengapa tidak begitu penting, karena semua “Kategori” di atas bisa saya jelaskan dengan mudahnya. Mengapa? karena hal itu sudah saya tempuh, alami dan lewati.

Image

Sebagai suatu Hak karena, saya layak mendapatkannya. Sebagai suatu Kewajiban karena itu yang dituntut pihak Universitas, Fakultas tempat saya belajar. Dimana dengan sadar mendedikasikan waktu dan tenaga, pikiran dan materi untuk meraihnya. Sebagai sebuah keinginan ketika satu etape, satu paragraf kehidupan diakhiri, untuk bisa segera memulai bagian berikutnya. Sebagai kebutuhan karena ya, memang butuh. Kalo nda dibutuhkan, kenapa harus beli, bayar mahal-mahal, apalagi ini Indonesia Bosss!!. Sebagai sebuah tanggung jawab pada diri sendiri, dan orang lain, ketika berani memulai sesuatu harus bisa mengakhirinya itu LAKI.

Kategori terakhir cukup membingungkan, Sebagai sebuah suratan takdir? mungkin ya, tidak perlu dibahas, berhubung pasti siapapun yang baca termasuk yang nulis bekum pernah bersurat sama yang namanya Takdir. Kasian Pak Pos, alamatnya dimana coba? Yang pasti itu akan, sedang dan telah terjadi.

Apapun arti dari sebuah kata “LULUS” dalam dunia pendidikan, layak, dan menurut saya penting untuk direnungkan oleh setiap calon-calon Lulusan khususnya yang sejenjang dengan saya nantinya. Jadi diri sendiri dan mencoba mencari jawaban versi masing-masing saya rasa yang paling pas untuk tiap pribadi. Tiap orang berbeda-beda, semua punya pilihan yang bertujuan dan pengharapan menuju kebaikan. Dan  yang terpenting, jangan lupakan tiap kisah, tiap ucapan maaf dan terimakasih yang sudah terlontar dan yang akan tersampaikan pada Semuanya, tanpa kecuali.

Maaf dan terimakasih untuk SEMUA-ku, Salam allinoneinall.

About kefsatriya

Music Arranger Composer and football lovers
This entry was posted in Story. Bookmark the permalink.

One Response to LULUS, Hak? Kewajiban? Keinginan? atau Kebutuhan? atau Tanggung jawab?, atau suratan takdir?

  1. ampun mas sarjana…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s